Social Items


Washington DC, Rasa rindu terhadap keluarga besar di tanah air dirasakan oleh sebagian besar warga muslim Indonesia yang tidak bisa mudik di hari raya Idul Fitri tahun ini. Salah satunya, Rini Marwini yang tinggal di negara bagian Maryland.

Tidak hanya rindu dengan keluarga, ia juga sangat merindukan masakan khas buatan sang ibu. “Lebaran tahun ini, sayangnya, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Jauh dari keluarga dan Coto Makassar buatan ibu saya.

Telpon dan FaceTime meringankan kerinduan” ujar Rini Marwini kepada VOA. Tahun ini Rini memilih untuk melakukan salat Ied bersama komunitas muslim dari berbagai negara yang diselenggarakan oleh McLean Islamic Center.

Mengikuti tradisi lebaran di Indonesia, Rini kemudian bersilaturahmi dengan teman-teman dekatnya yang juga tinggal di wilayah Washington, D.C. Tinggal jauh dari keluarga besar di Indonesia membuat teman-teman sesama perantau menjadi keluarga kedua.

“Saya ke rumah teman yang mengadakan open house, berkumpul bersama teman-teman dan keluarga sambil makan makanan khas lebaran Indonesia. Tapi tetap enggak ada Coto Makassar buatan Ibu saya,” katanya. Bagi warga Indonesia, Quatrina Amirullah, lebaran tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Suami sedang menjenguk mertua yg sakit di Indonesia. Ada rasa sedih sedikit, tapi terhibur karena saya dan anak-anak masih bisa merayakan lebaran dengan teman-teman dari komunitas Indonesia di Washington DC,” ujar Quatrina.
Tahun ini Quatrina dan anak-anaknya mengikuti salad Ied berjamaah di Nothern Virginia Community College di daerah Annandale, Virginia dengan masyarakat Indonesia setempat, yang diselenggarakan oleh organisasi Indonesian Muslim Association in America (IMAAM).
“Seru dan ramai karena gema takbir dan suasana mirip dengan di Indonesia,” cerita Quatrina. Usai salat Quatrina merayakan lebaran kali ini di salah satu rumah temannya.

“Di sana banyak makanan lebaran Indonesia seperti opor ayam, rendang, teri kacang, sayur labu, rujak, dan lain-lain. Stelah itu kita bagi-bagi angpao ke anak-anak. Alhamdulillah terobatilah rasa rindu dengan keluarga di tanah air dengan adanya komunitas Indonesia yang cukup dekat di sini dan dengan kita tetap meneruskan tradisi lebaran,” papar Quatrina.

Namun, tentu saja ada perbedaan yang terasa dari lebaran di Amerika. Salah satunya menurut Rini adalah perayaannya yang lebih terlokalisasi. “Hanya di komunitas-komunitas Islam, sedangkan kalau di Indonesia kan perayaan national. Jadi suasananya di sini gak se-semarak di Indonesia,” tambahnya. ​

Tahun ini warga Indonesia, Olivia Ranakusuma di Virginia mengadakan acara lebaran di rumahnya dan melakukan tradisi potluck dimana para tamu juga membawa makanan untuk dinikmati bersama.
“Kita makan ketupat, rendang, sambal goreng ati, semuanya ada deh di sini. Jadi kita merasa seperti di Indonesia juga,” ujar Olivia. 

Tidak hanya berkumpul bersama sambil bersilaturahmi dengan teman-teman terdekat, Olivia dan keluarga juga mengadakan acara khusus untuk anak-anak.
“Biasanya supaya anak-anak juga merasa lebaran itu sesuatu yang perlu dirayakan, kita ada permainan piñata. 

Piñata itu seperti sebuah bentuk mainan, bisa berbentuk kucing atau karakter, lalu dalamnya di isi dengan permen atau barang-barang kecil, snacks kecil untuk anak-anak, lalu nanti dipukul sama anak-anak dan barangnya akan keluar semua dari bentuk binatang atau karakter itu,” ujar Olivia.

Walaupun semarak lebaran di Amerika berbeda, warga muslim Indonesia tetap bisa merayakan hari kemenangan ini dengan semangat, sambil membawa tradisi yang serupa dengan di Indonesia, untuk mengobati kerinduan akan kampung halaman. Jamz-sumberVOA

Tidak Bisa Mudik, WNI Tetap Nikmati Lebaran di Amerika...

Cakrawala Online

Washington DC, Rasa rindu terhadap keluarga besar di tanah air dirasakan oleh sebagian besar warga muslim Indonesia yang tidak bisa mudik di hari raya Idul Fitri tahun ini. Salah satunya, Rini Marwini yang tinggal di negara bagian Maryland.

Tidak hanya rindu dengan keluarga, ia juga sangat merindukan masakan khas buatan sang ibu. “Lebaran tahun ini, sayangnya, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Jauh dari keluarga dan Coto Makassar buatan ibu saya.

Telpon dan FaceTime meringankan kerinduan” ujar Rini Marwini kepada VOA. Tahun ini Rini memilih untuk melakukan salat Ied bersama komunitas muslim dari berbagai negara yang diselenggarakan oleh McLean Islamic Center.

Mengikuti tradisi lebaran di Indonesia, Rini kemudian bersilaturahmi dengan teman-teman dekatnya yang juga tinggal di wilayah Washington, D.C. Tinggal jauh dari keluarga besar di Indonesia membuat teman-teman sesama perantau menjadi keluarga kedua.

“Saya ke rumah teman yang mengadakan open house, berkumpul bersama teman-teman dan keluarga sambil makan makanan khas lebaran Indonesia. Tapi tetap enggak ada Coto Makassar buatan Ibu saya,” katanya. Bagi warga Indonesia, Quatrina Amirullah, lebaran tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Suami sedang menjenguk mertua yg sakit di Indonesia. Ada rasa sedih sedikit, tapi terhibur karena saya dan anak-anak masih bisa merayakan lebaran dengan teman-teman dari komunitas Indonesia di Washington DC,” ujar Quatrina.
Tahun ini Quatrina dan anak-anaknya mengikuti salad Ied berjamaah di Nothern Virginia Community College di daerah Annandale, Virginia dengan masyarakat Indonesia setempat, yang diselenggarakan oleh organisasi Indonesian Muslim Association in America (IMAAM).
“Seru dan ramai karena gema takbir dan suasana mirip dengan di Indonesia,” cerita Quatrina. Usai salat Quatrina merayakan lebaran kali ini di salah satu rumah temannya.

“Di sana banyak makanan lebaran Indonesia seperti opor ayam, rendang, teri kacang, sayur labu, rujak, dan lain-lain. Stelah itu kita bagi-bagi angpao ke anak-anak. Alhamdulillah terobatilah rasa rindu dengan keluarga di tanah air dengan adanya komunitas Indonesia yang cukup dekat di sini dan dengan kita tetap meneruskan tradisi lebaran,” papar Quatrina.

Namun, tentu saja ada perbedaan yang terasa dari lebaran di Amerika. Salah satunya menurut Rini adalah perayaannya yang lebih terlokalisasi. “Hanya di komunitas-komunitas Islam, sedangkan kalau di Indonesia kan perayaan national. Jadi suasananya di sini gak se-semarak di Indonesia,” tambahnya. ​

Tahun ini warga Indonesia, Olivia Ranakusuma di Virginia mengadakan acara lebaran di rumahnya dan melakukan tradisi potluck dimana para tamu juga membawa makanan untuk dinikmati bersama.
“Kita makan ketupat, rendang, sambal goreng ati, semuanya ada deh di sini. Jadi kita merasa seperti di Indonesia juga,” ujar Olivia. 

Tidak hanya berkumpul bersama sambil bersilaturahmi dengan teman-teman terdekat, Olivia dan keluarga juga mengadakan acara khusus untuk anak-anak.
“Biasanya supaya anak-anak juga merasa lebaran itu sesuatu yang perlu dirayakan, kita ada permainan piñata. 

Piñata itu seperti sebuah bentuk mainan, bisa berbentuk kucing atau karakter, lalu dalamnya di isi dengan permen atau barang-barang kecil, snacks kecil untuk anak-anak, lalu nanti dipukul sama anak-anak dan barangnya akan keluar semua dari bentuk binatang atau karakter itu,” ujar Olivia.

Walaupun semarak lebaran di Amerika berbeda, warga muslim Indonesia tetap bisa merayakan hari kemenangan ini dengan semangat, sambil membawa tradisi yang serupa dengan di Indonesia, untuk mengobati kerinduan akan kampung halaman. Jamz-sumberVOA

Tidak ada komentar