Social Items


Bogor, Kejadian di dunia memang aneh-aneh, kadang tidak masuk nalar manusia. Seperti kejadian di Bogor ini. Yakni di sebuah komplek vila yang terkenal horor yang berada kawasan Puncak. 

Tepatnya di Kampung Pasir Angin Gadog, Desa Pasir Angin, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hampir semua warga di sekitar itu tahu lokasi kompleks vila yang dimaksud. Kondisi kompleks villa tersebut tidak terawat. 

Di sekelilingnya terdapat pagar besi yang semuanya sudah berkarat. Pintu gerbangnya dirantai dan digembok. Itu pertanda bahwa orang sebenarnya dilarang keluar-masuk sembarangan. Di depan deretan vila terdapat berbagai jenis tanaman perdu. Di sekitar halaman, ilalang tumbuh subur. 

Namun, yang paling terkenal dan menjadi buah bibir warga Gadog adalah sebuah pohon beringin besar di sebelah Barat deretan vila. Bila dilihat secara sekilas, vila ini meniru model Eropa. Namun, jendela dan pintu telah hancur menyisakan bibir tembok yang seperti habis terkena gempa. 

Kesan angker segera muncul di benak setiap orang yang melihatnya. Kata seorang warga sekitar yang mengaku bernama Wahyu (41), vila tersebut memang sudah tak berpenghuni. Vila sengaja dibiarkan begitu saja karena saat dibangun, pemiliknya meninggal secara mendadak. Setelah itu, sempat ada orang yang diminta menjaga vila. Orang tersebut berasal dari kampung sebelah. Namun, orang itu mengaku tak sanggup menjaga karena sering diganggu penampakan misterius saat malam hari.

 Kata Wahyu, "Vila itu sering disebut dengan nama Vila 88. Emang seram karena udah puluhan tahun tidak diurus sejak kematian pemiliknya dan ditinggal penjaganya.” Lalu apa penyebab kematian pemiliknya?

 “Warga sekitar sini percaya bahwa pemiliknya tak sanggup menghadapi roh penunggu pohon beringin di sebelah Barat vila. Ia terus diganggu sehingga suatu ketika mati mendadak. Dokter menyebutnya terkena serangan jantung,” ungkap Wahyu. 

“Roh itu pula yang suka mengganggu penjaga vila,” sambung Wahyu. Cerita itu kemudian menjadi buah bibir dari mulut ke mulut. Orang pun berdatangan ingin melihatnya. Bahkan, walau digembok dan dirantai, saat malam hari, ada saja orang yang menyelinap masuk menuju pohon beringin tersebut. 

“Apalagi, saat ramai judi bernama Togel, orang berdatangan dan mengirim sesaji di bawah pohon beringin. Konon mereka minta nomor Togel,” papar Wahyu. Namun, dari sekian banyak kejadian mistis setelah kematian pemilik vila, ada satu kejadian yang lebih menghebohkan. 

Seperti dituturkan oleh Wahyu, kejadian itu berupa kasus perempuan yang konon dihamili oleh penunggu pohon tersebut. “Jadi gini, Mas. Ada seorang perempuan dari Jakarta bernama Kurnia Rahmayani. Ia bekerja sebagai teller di sebuah bank. Suatu ketika, ia menikmati liburan bersama pacarnya yang bernama Ahmad Rangga menuju ke Puncak”, kata Wahyu.

 Sepasang kekasih itu menikmati aroma malam di Puncak dengan membakar jagung dan menyaksikan hamparan kebun teh dengan kerlap-kerlip lampu Kota Bogor. Tiba-tiba turun hujan deras. Mereka putuskan kembali ke mobil. Rahmayani dan Rangga sebenarnya ingin pulang kembali ke Jakarta. 

Namun, karena hujan deras tidak juga reda, mereka merasa kawatir jalan menjadi licin. Maka, mereka putuskan mencari vila untuk sekadar berteduh dan melewati malam. Esoknya baru kembali ke Jakarta. 

Entah kekuatan apa yang menyebabkan mobil yang mereka naiki justru menuju Vila 88. Padahal, vila itu gelap gulita di malam hari. Listrik sudah dicabut. Menurut pengakuan mereka, malam itu, Vila 88 terang benderang, lengkap dengan petugas yang melayani tamu. 

Singkat cerita, Rahmayani dan Rangga menginap di vila itu. Saat di dalam kamar, Rahmayani mengaku ada sesuatu keanehan dalam diri Rangga. Malam itu Rangga berubah menjadi lelaki liar dan jauh dari kesantunan. Sementara Rahmayani yang terkenal soleha, tak mampu membendung perilakunya. Rahmayani dan Rangga akhirnya hanyut dalam kekuatan entah apa namanya. 

Karena lelah, mereka kemudian tertidur pulas. Saat terbangun, kehebohan terjadi. Rahmayani berteriak dan membangunkan Rangga. Rangga pun terbangun dengan mata terbelalak. Mereka ternyata tetap berada dalam mobil dan tidak berada dalam kamar vila. 

Mobil itu diparkir tepat di depan gerbang Vila 88. Kepanikan mereka semakin menjadi-jadi tatkala Rahmayani tiba-tiba merasakan perutnya berubah buncit laksana hamil sembilan bulan.

 “Hari itu, kampung ini geger, Mas. Sepasang kekasih itu membuat orang berdatangan karena histeris dan meminta bantuan. Oleh sejumlah warga, mereka diantar menuju sesepuh desa,” tutur Wahyu. 

“Warga memanggil seorang nenek yang biasa dipanggil dengan nama Ajengan Sukma. Ia dipercaya sebagai 'orang pintar'. 

Dengan ramuan, mantra, dan dibantu doa bersama, perut Rahmayani bisa kembali seperti semula,” kenang Wahyu. 

“Kata Ajengan, Rahmayani dan Rangga, malam itu disusupi oleh penghuni pohon beringin di sebelah Barat Vila 88. Orang biasa menyebutnya dengan nama gandarwa atau genderuwo,“ lanjut Wahyu. 

Rahmayani dan Rangga juga diminta agar lain kali berhati-hati saat rekreasi di Puncak dan jangan lupa berdoa. Ada juga satu pesan yang cukup melegakan mereka berdua. “Kata nenek Ajengan Sukma, kegadisan Rahmayani tidak ternodai walau dihamili gandarwa,” kata Wahyu. GusR-sumberNetralnews

Perut Tiba-tiba Membesar, Ternyata Gadis Ini Dihamili Genderuwo

Cakrawala Online

Bogor, Kejadian di dunia memang aneh-aneh, kadang tidak masuk nalar manusia. Seperti kejadian di Bogor ini. Yakni di sebuah komplek vila yang terkenal horor yang berada kawasan Puncak. 

Tepatnya di Kampung Pasir Angin Gadog, Desa Pasir Angin, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hampir semua warga di sekitar itu tahu lokasi kompleks vila yang dimaksud. Kondisi kompleks villa tersebut tidak terawat. 

Di sekelilingnya terdapat pagar besi yang semuanya sudah berkarat. Pintu gerbangnya dirantai dan digembok. Itu pertanda bahwa orang sebenarnya dilarang keluar-masuk sembarangan. Di depan deretan vila terdapat berbagai jenis tanaman perdu. Di sekitar halaman, ilalang tumbuh subur. 

Namun, yang paling terkenal dan menjadi buah bibir warga Gadog adalah sebuah pohon beringin besar di sebelah Barat deretan vila. Bila dilihat secara sekilas, vila ini meniru model Eropa. Namun, jendela dan pintu telah hancur menyisakan bibir tembok yang seperti habis terkena gempa. 

Kesan angker segera muncul di benak setiap orang yang melihatnya. Kata seorang warga sekitar yang mengaku bernama Wahyu (41), vila tersebut memang sudah tak berpenghuni. Vila sengaja dibiarkan begitu saja karena saat dibangun, pemiliknya meninggal secara mendadak. Setelah itu, sempat ada orang yang diminta menjaga vila. Orang tersebut berasal dari kampung sebelah. Namun, orang itu mengaku tak sanggup menjaga karena sering diganggu penampakan misterius saat malam hari.

 Kata Wahyu, "Vila itu sering disebut dengan nama Vila 88. Emang seram karena udah puluhan tahun tidak diurus sejak kematian pemiliknya dan ditinggal penjaganya.” Lalu apa penyebab kematian pemiliknya?

 “Warga sekitar sini percaya bahwa pemiliknya tak sanggup menghadapi roh penunggu pohon beringin di sebelah Barat vila. Ia terus diganggu sehingga suatu ketika mati mendadak. Dokter menyebutnya terkena serangan jantung,” ungkap Wahyu. 

“Roh itu pula yang suka mengganggu penjaga vila,” sambung Wahyu. Cerita itu kemudian menjadi buah bibir dari mulut ke mulut. Orang pun berdatangan ingin melihatnya. Bahkan, walau digembok dan dirantai, saat malam hari, ada saja orang yang menyelinap masuk menuju pohon beringin tersebut. 

“Apalagi, saat ramai judi bernama Togel, orang berdatangan dan mengirim sesaji di bawah pohon beringin. Konon mereka minta nomor Togel,” papar Wahyu. Namun, dari sekian banyak kejadian mistis setelah kematian pemilik vila, ada satu kejadian yang lebih menghebohkan. 

Seperti dituturkan oleh Wahyu, kejadian itu berupa kasus perempuan yang konon dihamili oleh penunggu pohon tersebut. “Jadi gini, Mas. Ada seorang perempuan dari Jakarta bernama Kurnia Rahmayani. Ia bekerja sebagai teller di sebuah bank. Suatu ketika, ia menikmati liburan bersama pacarnya yang bernama Ahmad Rangga menuju ke Puncak”, kata Wahyu.

 Sepasang kekasih itu menikmati aroma malam di Puncak dengan membakar jagung dan menyaksikan hamparan kebun teh dengan kerlap-kerlip lampu Kota Bogor. Tiba-tiba turun hujan deras. Mereka putuskan kembali ke mobil. Rahmayani dan Rangga sebenarnya ingin pulang kembali ke Jakarta. 

Namun, karena hujan deras tidak juga reda, mereka merasa kawatir jalan menjadi licin. Maka, mereka putuskan mencari vila untuk sekadar berteduh dan melewati malam. Esoknya baru kembali ke Jakarta. 

Entah kekuatan apa yang menyebabkan mobil yang mereka naiki justru menuju Vila 88. Padahal, vila itu gelap gulita di malam hari. Listrik sudah dicabut. Menurut pengakuan mereka, malam itu, Vila 88 terang benderang, lengkap dengan petugas yang melayani tamu. 

Singkat cerita, Rahmayani dan Rangga menginap di vila itu. Saat di dalam kamar, Rahmayani mengaku ada sesuatu keanehan dalam diri Rangga. Malam itu Rangga berubah menjadi lelaki liar dan jauh dari kesantunan. Sementara Rahmayani yang terkenal soleha, tak mampu membendung perilakunya. Rahmayani dan Rangga akhirnya hanyut dalam kekuatan entah apa namanya. 

Karena lelah, mereka kemudian tertidur pulas. Saat terbangun, kehebohan terjadi. Rahmayani berteriak dan membangunkan Rangga. Rangga pun terbangun dengan mata terbelalak. Mereka ternyata tetap berada dalam mobil dan tidak berada dalam kamar vila. 

Mobil itu diparkir tepat di depan gerbang Vila 88. Kepanikan mereka semakin menjadi-jadi tatkala Rahmayani tiba-tiba merasakan perutnya berubah buncit laksana hamil sembilan bulan.

 “Hari itu, kampung ini geger, Mas. Sepasang kekasih itu membuat orang berdatangan karena histeris dan meminta bantuan. Oleh sejumlah warga, mereka diantar menuju sesepuh desa,” tutur Wahyu. 

“Warga memanggil seorang nenek yang biasa dipanggil dengan nama Ajengan Sukma. Ia dipercaya sebagai 'orang pintar'. 

Dengan ramuan, mantra, dan dibantu doa bersama, perut Rahmayani bisa kembali seperti semula,” kenang Wahyu. 

“Kata Ajengan, Rahmayani dan Rangga, malam itu disusupi oleh penghuni pohon beringin di sebelah Barat Vila 88. Orang biasa menyebutnya dengan nama gandarwa atau genderuwo,“ lanjut Wahyu. 

Rahmayani dan Rangga juga diminta agar lain kali berhati-hati saat rekreasi di Puncak dan jangan lupa berdoa. Ada juga satu pesan yang cukup melegakan mereka berdua. “Kata nenek Ajengan Sukma, kegadisan Rahmayani tidak ternodai walau dihamili gandarwa,” kata Wahyu. GusR-sumberNetralnews

Tidak ada komentar