Social Items


Grobogan-Cakrawalaonline, Budaya bakdo kupat atau sering juga disebut dengan bakdo Kecil, yang jatuh 7 hari setelah Hari Raya Iedul Fitri masih terjaga sampai sekarang. Diperbagai tempat yang ada di kabupaten Grobogan pagi ini Jum'at (22/6) diramaikan oleh kerumunan orang pesta ketupat.

Adapun perayaanya berupa kenduri di suatu tempat di tengah kampung, yang diikuti oleh masyarakat di perkotaan maupun pedesaan. Ada juga yang bertempat di serambi masjid.

Acaranya cukup simpel, setelah dibacakan doa oleh imam, selanjutnya diisi dengan makan ketupat bersama yang dibawa sendiri dari rumah masing-masing.

Menurut sejarahnya ketupat di Jawa diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Maka Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali Bakdo, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah lebaran. Pada hari yang disebut Bakdo Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda.

Setelah selesai dianyam, ketupat diisi dengan beras kemudian dimasak. Ketupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, sebagai lambang kebersamaan. Ng

Tradisi Bakdo Kupat Masih Dilaksanakan Oleh Masyarakat Grobogan

Cakrawala Online

Grobogan-Cakrawalaonline, Budaya bakdo kupat atau sering juga disebut dengan bakdo Kecil, yang jatuh 7 hari setelah Hari Raya Iedul Fitri masih terjaga sampai sekarang. Diperbagai tempat yang ada di kabupaten Grobogan pagi ini Jum'at (22/6) diramaikan oleh kerumunan orang pesta ketupat.

Adapun perayaanya berupa kenduri di suatu tempat di tengah kampung, yang diikuti oleh masyarakat di perkotaan maupun pedesaan. Ada juga yang bertempat di serambi masjid.

Acaranya cukup simpel, setelah dibacakan doa oleh imam, selanjutnya diisi dengan makan ketupat bersama yang dibawa sendiri dari rumah masing-masing.

Menurut sejarahnya ketupat di Jawa diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Maka Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali Bakdo, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah lebaran. Pada hari yang disebut Bakdo Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda.

Setelah selesai dianyam, ketupat diisi dengan beras kemudian dimasak. Ketupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, sebagai lambang kebersamaan. Ng

Tidak ada komentar